Ditempa 10 Hari di Kendal, Maftuh Lebih Pede Masuki Pasar Digital Bursa UMKM

www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,8 Desember 2025-Maftuh Jauhari kini lebih bersemangat dalam mengembangkan bisnis usaha madunya.

Bisnis yang ia tekuni sejak setahun terakhir itu, kerap kali mengalami kesulitan masuk pasar digital.

Selama setahun pula, Maftuh memasarkan usahanya melalui media sosial Facebook maupun aplikasi perpesanan WhatsApp.

Sesekali, ia juga menggunakan metode gethuk tular untuk membranding usahanya.

Akan tetapi, Maftuh menilai kedua metode penjualan itu belum begitu maksimal.

“Saya biasanya jualan di Facebook, kadang laris kadang ya biasa saja. Dan menurut saya itu butuh teknik pemasaran lebih,” katanya, Senin (8/12/2025).

Maftuh pun kemudian mengikuti program pemasaran UMKM yang digelar oleh Dinas Perdagangan, Koperasi (Disdagkop) dan UKM Kabupaten Kendal.

Pelatihan digelar selama sejak 24 November hingga 4 Desember. Selama proses pelatihan, Maftuh diajari menggunakan teknologi dan metode pemasaran melalui aplikasi khusus.

Aplikasi itu nantinya akan terhubung ke berbagai jejaring, yang bisa dimanfaatkan pelaku UMKM untuk meningkatkan penjualan.

Yang menarik, peserta akan dilakukan pengujian khusus di akhir pelatihan dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).

“Banyak yang saya dapat selama pelatihan, intinya tentang bagaimana strategi marketting secara digital,” ungkapnya.

Maftuh sempat beberapa kali tak bisa menyelesaikan bagian sewaktu proses pengujian. Dengan gigit jari, Maftuh pun dinyatakan tidak lolos proses pelatihan.

“Kalau enggak salah, yang lolos itu separuh. Tapi enggak papa, yang penting sedikit demi sedikit saya sudah bisa mempraktikkannya langsung,”

“Dan strategi ini nanti juga akan saya terapkan dalam proses penjualan saya.” paparnya.

Sementara itu, Kepala Disdagkop Kendal, Toni Ari Wibowo mengatakan pelatihan difokuskan untuk membranding serta memasarkan produk untuk menambah nilai jual.

Dalam pelatihan ini juga, peserta akan dibekali kompetensi khusus dengan penilaian langsung dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).

“Jadi pada pelatihan ini, peserta tidak bisa santai. Mereka akan diawasi dan dilatih langsung dari BSN, dan tidak semua bisa lulus,” tuturnya.

Toni mengungkapkan, proses seleksi sebelum memasuki tahap pelatihan ini juga cukup ketat. Dari ratusan pendaftar, hanya 140 pelaku UMKM yang lolos seleksi awal.

“Termasuk persyaratan berupa pengalamannya seperti apa, terus produk kelengkapannya bagaimana serta legalitas usaha kami seleksi sangat ketat,” paparnya.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan jumlah pelaku UMKM di Kendal terus meningkat pesat setiap tahunnya. Di tahun 2022, jumlah pelaku UMKM mencapai 25 ribu.

Jumlah itu meningkat menjadi 39 ribu di tahun 2024. Perkembangan signifikan ini merupakan bentuk kemandirian serta keluasan menangkap peluang usaha berbagai jenis.

“Kalau kita lihat dari tahun ke tahun memang terus meningkat, tahun ini belum karena hitungan pendataan 2 tahun sekali,” tuturnya.

Bupati menilai, keberadaan UMKM menjadi satu di antara faktor penunjang perkembangan perekonomian daerah. Ia berharap peserta bisa memanfaatkan momen pelatihan ini untuk meningkatkan skil olah digital.

“Perkembangan teknologi semakin maju, jadi harus kita imbangi dengan kreativitas termasuk penjualan,” tandasnya.