Hujan Deras Picu Jembatan Ambles di Kalikajar Wonosobo, Dua Remaja Terperosok Saat Melintas

www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah, 18 Februari 2026-Jembatan yang selama puluhan tahun menjadi akses utama warga di Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, mendadak ambles setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Jembatan penghubung antar desa di Dusun Ngadiloka, Desa Kalikuning, Kecamatan Kalikajar, ambles pada Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.

Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut hingga menyebabkan banjir dan erosi di bagian bawah konstruksi jembatan.

Kepala Dusun Semampir, Wahno, menjelaskan bahwa kondisi jembatan sebelumnya memang sudah mengalami keretakan akibat longsor yang terjadi kurang dari satu tahun lalu.

“Kemarin kan di sini hujannya lebat, banjirnya besar, terus karena itu kena erosi, jadi menyebabkan jembatannya ambles,” ujar Wahno saat ditemui di lokasi, Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan, struktur jembatan yang terdiri dari bagian lama dan bagian renovasi akhirnya ambruk bersamaan setelah pondasi bawah tidak mampu menahan arus air.
“Yang bawah jatuh, jadi yang atas juga ikut jatuh, semua ambrol itu,” katanya.

Dalam kejadian tersebut, dua remaja perempuan warga Dusun Semampir menjadi korban setelah sepeda motor yang mereka kendarai terjatuh ke bawah jembatan setinggi sekitar 6 meter dengan panjang 17 meter.

Korban pertama bernama Anisa (17) mengalami retak tulang, sedangkan Feriyana (18) mengalami luka ringan.

Keduanya terjatuh saat pulang kerja dan melintas di atas jembatan yang dikira masih aman.

“Pas melintas, mereka engga tahu, itu belum berlubang, masih retak-retak. Dikira ngga bakal jatuh,” kata Wahno.

Selain korban utama, dua warga yang berusaha menolong, Heri (26) dan Walno (36), juga mengalami luka ringan.

Para korban telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis, sementara sepeda motor berhasil dievakuasi warga.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Rabu (18/2/2026) jembatan kini ditutup menggunakan papan sederhana yang dipasang warga sebagai penanda sekaligus penghalang agar tidak ada kendaraan yang melintas.

Penutupan dilakukan secara darurat mengingat kondisi struktur yang membahayakan.

Pada sisi kanan dan kiri jembatan terlihat retakan memanjang, sementara di bagian tengah tampak lubang besar akibat longsor.

Aspal jalan terlihat ambles masuk ke dalam rongga tanah, dengan beberapa bagian konstruksi jembatan tampak patah.

Jika dilihat dari bawah, tepatnya dari aliran Sungai Banten, kerusakan terlihat lebih parah.

Penyangga jembatan tampak patah, sementara tanah di tepi sungai dekat pondasi terlihat berlubang karena terkikis arus air, terutama saat debit sungai meningkat ketika hujan deras.

Di lokasi kejadian juga terlihat perangkat desa bersama perwakilan pemerintah daerah melakukan pengecekan kondisi jembatan.

Sejumlah warga juga tampak bergotong royong membawa pipa untuk memperbaiki sambungan air bersih yang turut terputus akibat amblesnya jembatan tersebut.

Wahno menyebut, jembatan tersebut merupakan akses penting yang menghubungkan Dusun Ngadiloka, dengan Dusun Semampir Desa Kalikuning hingga ke Desa Lamuk.

Akses ini sangat dibutuhkan warga karena termasuk akses menuju pasar dan jalur utama warga ke wilayah kota.

Akibat kejadian ini, warga kini harus mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh sekitar 3 kilometer atau memutar hingga setengah jam perjalanan.

“Paling tidak, ya kita melewati jalur alternatif kurang lebih 3 kilometer,” ujar Wahno.

Menurut Wahno, jembatan tersebut pertama kali dibangun pada era 1990-an dan telah mengalami renovasi sebanyak dua kali.

Namun kondisi tanah yang terus tergerus air membuat struktur tidak lagi kuat menopang beban.

Selain akses jalan, dampak lain yang dirasakan warga adalah terganggunya aliran air bersih karena jaringan pipa ikut terdampak amblesnya jembatan dan saat ini masih dalam proses perbaikan.

Warga berharap dan bantuan pemerintah daerah untuk penanganan jembatan agar mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali normal.