www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah 26 Januari 2026-Beberapa hari terakhir viral di media sosial khususnya Instagram yang memperlihatkan bibir Pantai Larangan Kabupaten Tegal dipenuhi kayu gelondongan dari yang berukuran kecil sampai besar.
Gelondongan kayu tersebut muncul berbarengan dengan banjir bandang yang menimpa kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Guci pada Sabtu (24/1/2026).
Hal itu membuat muncul dugaan kayu yang memenuhi Pantai Larangan berasal dari material banjir bandang yang terbawa arus sampai ke wilayah pantai utara.
Dugaan tersebut diperkuat karena selain kayu, ditemukan juga adanya pipa saluran air yang biasanya banyak ditemui di kawasan wisata Guci.
Sesuai pantauan di lokasi pada Senin (26/1/2026), kayu gelondongan masih memenuhi sepanjang bibir Pantai Larangan masuk Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.
Beberapa warga terlihat masih memilah kayu yang sekiranya bisa dimanfaatkan sendiri untuk kayu bakar ataupun dijual ke tengkulak.
Tumpukan kayu masih berserakan bahkan ada juga yang terombang-ambing air laut.
Warga menggunakan alat seadanya dan menggunakan tenaga manual atau memindahkan sendiri dengan cara mengangkat kayu-kayu berukuran kecil.
Sedangkan kayu yang berukuran besar menggunakan tali atau digotong beberapa orang dan dinaikkan ke mobil pikap (bak terbuka) yang sudah menunggu.
Munculnya kayu gelondongan secara tak terduga menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar khususnya nelayan.
Seperti warga Desa Munjungagung, Sunarji, mengaku awalnya kaget mengetahui ada kayu sebanyak itu di pinggir pantai.
Sunarji mengetahui kondisi tersebut pada keesokan paginya dan memperkirakan kayu mulai memenuhi bibir pantau sejak Jumat (23/1/2026) malam.
Berprofesi sebagai nelayan, Sunarji bercerita sudah beberapa hari tidak melaut mencari ikan karena paceklik.
“Jadi sebelum kayu gelondongan, satu hari sebelumnya muncul banyak ikan di pinggir pantai jumlahnya sangat banyak. Nah keesokan paginya baru warga melihat kayu yang sangat banyak memenuhi bibir pantai. Ya bagi kami nelayan yang sementara tidak melaut karena cuaca buruk adanya kayu ini sebagai berkah apalagi sebentar lagi puasa dan lebaran,” cerita Sunarji.
Selain memanfaatkan kayu untuk dijual ke tengkulak dan dijadikan kayu bakar, Sunarji menyebut warga sekaligus membersihkan kawasan Pantai Larangan.
Adapun sudah tiga hari ini warga mengumpulkan kayu gelondongan yang masih bisa dimanfaatkan.
Menurut Sunarji untuk proses pembersihan membutuhkan bantuan alat berat karena ketika hanya mengandalkan tenaga manusia membutuhkan waktu lebih lama.
“Semenjak tinggal di sekitar Pantai Larangan, saya baru pertama kali mengalami kondisi seperti ini. Biasanya kayu kecil dan jumlahnya tidak banyak paling hanya beberapa,” kata Sunarji.
Masih di lokasi yang sama, warga Desa Munjungagung, Wati, mengaku kayu gelondongan yang terdampar di Pantai Larangan merupakan rejeki tersendiri bagi warga karena bisa dimanfaatkan.
Wati baru pertama kali mengalami kejadian serupa dan saat pertama kali tahu sempat kaget melihat banyaknya kayu.
Bahkan Wati memilah kayu untuk dijual sudah sejak kemarin tepatnya Minggu (25/1/2026) dari pagi sampai sore hari.
Dikatakan Wati kayu gelondongan datang serentak dalam jumlah yang sangat banyak dan langsung memenuhi bibir pantai.
“Kalau menurut saya kayu-kayu ini berasal dari banjir bandang yang menimpa kawasan Guci dan bekas pertambangan di lereng Gunung Slamet. Kabar itu saya ketahui dari informasi sepintas yang saya baca di media sosial. Ya jadi rejeki dadakan untuk warga sekitar Pantai Larangan khususnya nelayan,” ungkap Wati.
Ketua RW 02 Desa Munjungagung Bambang Supeno mengungkapkan, di Pantai Larangan belum pernah terjadi peristiwa dipenuhi kayu gelondongan seperti saat ini.
Bambang memperkirakan kayu-kayu ini kiriman banjir bandang dari kawasan Gunung Slamet ke Guci, mengalir ke Kali Gung dan terbawa sampai ke Kali Ketiwon, kemudian menumpuk atau berakhir di Pantai Larangan.
Menurut Bambang, jenis kayu yang terdampar sebagian besar pohon sengon, petai, pinus, ada juga bambu dan ranting.
Selain kayu, banyak juga ditemukan pipa-pipa saluran air yang kemungkinan besar dari kawasan Guci yang ikut terbawa arus sampai Pantai Larangan.
“Menurut informasi yang saya peroleh, warga menjual kayu gelondongan ini ke tengkulak harga Rp150 ribu per dompleng atau mobil pikap. Baru pernah kejadian seperti ini,” ungkap Bambang.
Bahkan Bambang menuturkan dirinya menemukan beberapa kayu gelondongan yang kondisinya sudah terpotong rapih seperti menggunakan alat.
Tidak ada akar ataupun jejak lainnya dari pohon, kondisinya rapih seperti memang sudah dipotong sebelum terbawa arus banjir bandang.
“Sepertinya potongan gergaji karena rapih dan rata. Bukan karena tumbang dari akar pohon. Ukurannya lumayan besar dan panjang mungkin sekitar dua meteran lebih,” tuturnya.
Direktur Utama BUMDes Asri Agung Desa Munjungagung sekaligus pengelola Pantai Larangan, Warnadi menambahkan, kayu gelondongan yang memenuhi bibir pantai jumlahnya diluar nalar karena saking banyaknya.
Warnudi menduga kayu ini berasal dari sisa-sisa yang tidak dimanfaatkan dari penambangan di kawasan Lereng Gunung Slamet kemudian potongannya terbawa banjir.
“Menurut saya ini diluar nalar karena saat musim hujan memang ada kayu yang terbawa arus tapi tidak sebanyak ini. Ya mungkin ratusan ton karena membentang dari Kali Ketiwon Dampyak sampai Larangan atau sekitar 10 kilometer lebih,” beber Warnadi.
Diterangkan Warnudi, sementara ini warga memanfaatkan kayu dengan mengumpulkan dan dijual untuk kayu bakar.
Seminggu setelahnya sisa kayu yang berukuran kecil akan dibersihkan agar Pantai Larangan kembali bersih dan nyaman bagi pengunjung.
Rencananya minggu depan akan dilakukan bersih-bersih sisa kayu gelondongan.
“Adanya kayu ini menjadi berkah bagi warga. Kebetulan kondisi nelayan sedang paceklik dan tidak bisa melaut otomatis pemasukan berkurang. Maka dari itu warga memanfaatkan kayu untuk dijual ke tengkulak sehingga ada pemasukan,” terang Warnudi.
