Warga Baseh Tuntut Tambang Ditutup Permanen, Catat Kerugian Lingkungan dan Sosial Selama Empat Tahun

www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,9 Desember 2025-Puluhan warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, bersama sejumlah aktivis lingkungan menggelar aksi damai menolak keberadaan tambang granodiorit milik PT Dinar Batu Agung (DBA), Selasa (9/12/2025).

Aksi berlangsung di depan Gedung DPRD Banyumas pukul 11.30 WIB, dengan tuntutan utama penutupan permanen aktivitas tambang di Bukit Jenar.

Massa membawa spanduk bertuliskan ‘Baseh Tolak Tambang’, ‘Tambang Baseh Merusak Alam’, hingga ‘Kami Diintimidasi dan Dikriminalisasi’.

Warga menilai operasi tambang yang sudah berlangsung sekitar empat tahun terakhir telah menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, mulai dari kerusakan kolam, sawah, hingga ancaman terhadap sumber air bersih.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di lokasi, warga dan organisasi lingkungan yang tergabung dalam Musyawarah Masyarakat Baseh (MURBA), Jaga Rimba, Save Slamet, hingga Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional, memaparkan detail kerusakan yang mereka alami selama operasional tambang berlangsung.

  1. Sebanyak 19 Kolam Ikan Warga Rusak
    Warga mencatat, sedikitnya 19 kolam ikan rusak akibat endapan sedimen dari area tambang.

Material berupa pasir, kerikil, dan lumpur terbawa air hujan dan mengendap di kolam, membuat air keruh serta menurunkan kualitasnya.

Kondisi itu mengganggu fotosintesis alga dan tanaman air sehingga kolam tidak lagi produktif.

  1. 24 Hektare Sawah Tertimbun Pasir, Kerikil, dan Mendapat Dampak Drainase Asam.

Sedimentasi dari aktivitas penambangan juga menimbun dan merusak struktur tanah di area persawahan seluas sekitar 24 hektare.

Warga menyebut, tanah menjadi kurang subur akibat tercampur material tambang serta terpapar drainase air yang sangat asam.

Debu penambangan turut mengendap di permukaan sawah dan mengganggu hasil panen petani.

  1. Ancaman Krisis Air Bersih bagi Lebih dari 100 Kepala Keluarga.

Warga khawatir keberadaan tambang mengancam mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari bagi lebih dari seratus kepala keluarga.

Kerusakan bentang alam dan perubahan kontur tanah dianggap bisa mengurangi debit hingga memicu hilangnya sumber air.

 

  1. Bahaya Lumpur dan Batu yang Mengalir ke Jalan.

Selain merusak lahan, warga juga melaporkan bahwa material tambang yang terbawa air hujan kerap memenuhi akses jalan, membahayakan pengguna jalan serta dapat memicu kecelakaan, terutama saat hujan deras.

Warga Baseh merasa takut terulangnya bencana longsor di wilayah lain.

Dalam orasi, warga menyebut keresahan mereka dipicu oleh sejumlah bencana longsor besar yang terjadi di wilayah lain seperti Majenang (Cilacap), Pandanarum (Banjarnegara), serta wilayah di Jawa Tengah dan Sumatra.

Bukit Jenar, sebagai bagian dari gugus Gunung Slamet, dinilai memiliki potensi rawan longsor apabila terus ditambang.

“Kami tidak ingin bencana seperti di daerah-daerah saudara kita itu terjadi di Baseh,” ujar Koordinator Aksi, Budi Tartanto kepada Tribunbanyumas.com.

Warga menilai penutupan sementara tambang oleh Dinas ESDM Jawa Tengah beberapa waktu lalu menunjukkan adanya dugaan pelanggaran perizinan dan ketidakpatuhan terhadap standar teknis penambangan.

Mereka meminta DPRD Banyumas serta Bupati Banyumas memberikan rekomendasi tegas untuk mencabut izin dan menutup tambang secara permanen.

“Tambang sudah beroperasi empat tahun dan kerusakannya sudah jelas. Kami ingin penutupan total.

Potensi bahayanya besar sekali,” tegas Budi.

Dalam pernyataan resmi, warga menyampaikan tiga poin tuntutan:

  1. Penutupan permanen tambanggranodiorit PT Dinar Batu Agung karena dinilai menimbulkan polusi, kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran air, serta memicu tekanan sosial di masyarakat.
  2. PT Dinar Batu Agung diminta melakukan normalisasi terhadap sawah, kolam ikan, dan area terdampak lain yang tertimbun material tambang.
  3. Perusahaan wajib memberikan ganti rugi kepada petani dan pemilik kolam akibat kerusakan, penurunan produksi, hingga hilangnya mata pencaharian.

Warga juga menegaskan siap menyegel lokasi tambang bila pemerintah tidak segera menutupnya secara permanen. Adapun luas area penambangan tercatat sekitar 9,4 hektare.

Warga berharap pemerintah daerah bertindak cepat mencegah kerusakan lingkungan lebih jauh dan menghindari potensi bencana yang mengancam keselamatan warga Baseh.