www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,20 Mei 2026-16 Bhikku mulai melakukan perjalanan spiritual bertajuk Walk For Peace (Bhikku Thudong) pada Rabu (20/5/2026).
Perjalanan spiritual para Bhikku yang biasa dikenal dengan sebutan Bhikku Thudong atau Bhiksu Thudong ini dimulai dari Candi Sima Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara menuju Candi Sewu di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten.
Perjalanan para Bhikku ini diperkirakan membutuhkan waktu 11 hari dengan jarak tempuh sekira 250 kilometer untuk sampai di Candi Sewu Klaten.
Khusus di Jepara, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu dua hari satu malam.
Setelah 16 Bhikku dilepas dari Candi Sima, mereka mulai menyusuri Jalan Jepara- Pati menuju arah Kota Jepara.
Tempat persinggahan pertama adalah Balai Desa Jlegong Kecamatan Keling.
Rencananya, tempat bermalam pertama di Kecamatan Bangsri atau Kantor Bupati Jepara di Kecamatan Kota.
Selanjutnya para Bhikku melanjutkan perjalanan kembali pada Kamis (21/5/2026) menuju Kecamatan Welahan dan singgah di Klenteng Welahan.
Di Welahan, 16 Bhikku bakal singgah sebentar dan melanjutkan perjalanan kembali menuju Kebupaten Demak- Kota Semarang- Ungaran Kabupaten Semarang- Kota Salatiga- Kabupaten Boyolali dan finish di Candi Sewu Kabupaten Klaten.
Ketua Panitia Bhikku Thudong 2026, Sundoko mengatakan, prosesi pelepasan Bhikku digelar dengan pembacaan Paritta Suci atau lantunan syair doa dalam Agama Buddha.
Dalam rangka meminta perlindungan dan penjagaan dari segala macam bahaya, serta berharap kedamaian dan energi positif.
Prosesi ritual menuju pelepasan Bhikku Thudong dimulai pukul 07.45 di pelataran Candi Sima Jepara. Selanjutnya para Bhikku mulai melakukan perjalanan pukul 09.00 menuju Candi Sewu Klaten.
Sundoko menyebut, 16 Bhikku yang mengikuti perjalanan spiritual atau Thudong dinamakan Bhikku Sangha.
Kata dia, Thudong bukan sekadar perjalanan kaki menempuh jarak dan medan.
Lebih dari itu, Thudong diartikan sebagai perjalanan batin. Sebuah laku spiritual yang mengajarkan kesederhanaan, keteguhan hati, kedisiplinan, pengendalian diri, juga welas asih kepada seluruh makhluk.
Di setiap langkah para Bhikkhu, terdapat doa untuk kedamaian negeri. Di setiap peluh perjalanan, mengandung pengorbanan demi nilai-nilai kebajikan.
“Di setiap tapak yang dilalui, tersimpan pesan persatuan, toleransi, perdamaian, serta keharmonisan kehidupan berbangsa dan beragama,” terangnya.
Sundoko menjelaskan, beberapa pemaknaan itu menjadi dasar umat Buddha mendukung upaya pelestarian nilai spiritual, budaya, dan kemanusiaan yang luhur melalui perjalanan spiritual.
Perjalanan spiritual yang diikuti 16 Bhikku Thudong 2026 berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti dari Jepara, Banyumas, Mojokerto, Medan dan beberapa kabupaten/kota lainnya.
Dengan tekad luhur, para Bhikku menempuh perjalanan spiritual dengan berjalan kaki demi membawa pesan kedamaian bagi masyarakat.
“Rutenya melewati tujuh kabupaten/kota, mulai dari Jepara hingga Klaten” ujar dia.
Manfaatkan Fasilitas Umum sebagai Tempat Singgah
Sundoko menyebut, Bhikku tetaplah manusia, sehingga dalam perjalanan panjang yang dilakukan tetap membutuhkan waktu untuk istirahat, makan, dan bermalam.
Para Bhikkhu beserta rombongan akan singgah di sejumlah pos peristirahatan yang telah dipersiapkan oleh masyarakat dan berbagai pihak pendukung di sepanjang rute perjalanan.
Pos-pos singgah yang digunakan dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia di setiap daerah yang dilewati.
Seperti vihara, klenteng, gereja, masjid, kantor balai desa, gedung milik pemerintah desa, pemerintah daerah, fasilitas milik kecamatan, hingga dukungan tempat singgah dari pihak kepolisian melalui kantor Polsek, kantor Gubernur, Kodam/IV Diponegoro, rumah sakit, serta fasilitas umum lainnya yang turut dibuka demi mendukung kelancaran perjalanan.
Kata dia, setiap titik singgah bukan sekadar tempat beristirahat, namum simbol kuatnya gotong-royong dan toleransi antarumat beragama di tengah masyarakat.
Kehadiran Thudong di berbagai wilayah diharapkan mampu menghadirkan suasana penuh kedamaian, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan nilai-nilai welas asih, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya bangsa.
Perjalanan Thudong diharapkan menjadi momentum spiritual dan budaya, membawa pesan damai serta menginspirasi semangat kebersamaan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Perjalanan ini ditempuh selama 11 hari dengan penuh disiplin, kesederhanaan, dan semangat pengabdian.”
“Selama perjalanan, para Bhikku menjalani kehidupan sederhana sesuai nilai-nilai Vinaya dan tradisi Thudong,” tuturnya.
Sundoko berharap, perjalanan Bhikku Thudong membawa manfaat spiritual bagi seluruh peserta, juga masyarakat yang dilalui.
Senantiasa membawa pesan perdamaian, memperkuat persaudaraan lintas agama, serta menghadirkan kesejukan dan keteladanan di tengah kehidupan bangsa Indonesia.
“Semoga langkah-langkah suci Para Bhikku menjadi cahaya kebajikan bagi negeri ini,” harapnya.
Perjalanan Bhikku Thudong 2026 digelar Yayasan Eka Sagara Dharma Jepara.
Setelah 16 Bhikku sampai di Candi Sewu langsung bergabung dengan panitia Waisak tahun ini untuk mengikuti perayaan Hari Raya Waisak 31 Mei 2026. Selanjutnya para Bhikku kembali ke daerah masing-masing.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kanwil Kemenag Jateng, Karbono berpesan agar perjalanan Walk for Peace 2026 (Bhikku Thudong) berjalan lancar.
Dia berharap perjalanan spiritual ini dalam rangka menjalankan ibadah Thudong menuju perayaan Hari Raya Waisak tidak merugikan orang lain, terutama pengguna jalan.
“Dalam perjalanan harus rapi, tidak membuat kemacetan jalan. Jangan sampai membuat orang rugi,” pesannya.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyatakan, Thudong merupakan bagian dari praktik perjalanan spiritual yang sangat mendalam, praktik pengendalian diri, kesederhanaan hidup, ketekunan dan keteguhan batin dan disiplin.
Dengan adanya tradisi Thudong, seluruh elemen Bhikku berkumpul di Jepara. Menjaga keharmonisan budaya yang senantiasa dirawat dan dijaga dengan baik.
“Para Bhikku ini turut serta menjaga kedamaian, merawat gotong-royong dan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Semoga perjalanan ini bisa membawa manfaat bagi semua,” tuturnya.
Masyarakat Sambut Para Bhikku
Selepas 16 Bhikku dilepas dari Candi Sima, rombongan disambut masyarakat Jepara di sepanjang perjalanan.
Mereka antusias untuk melihat seperti apa para Bhikku yang melakukan perjalanan jauh hingga melewati berbagai kabupaten/kota.
Satu di antaranya Kinanti (34) tampak antusias menyambut kedatangan Bhikku di Jalan Raya Keling Jepara.
Bersama kerumunan masyarakat, dia mengabadikan kedatangan Bhikku dengan telepon genggamnya sebagai dokumentasi pribadi.
“Dengar-dengar ada perjalanan Bhiksu Thudong, penasaran belum pernah lihat.”
“Akhirnya nekad saja mau lihat seperti apa. Bersyukur sih sempat bisa ambil video, enggak terlambat,” ungkap dia.
