www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,1 Juli 2026-Di tengah gempuran permainan digital dan penggunaan gadget yang semakin masif di kalangan anak-anak, Pemerintah Kabupaten Batang mencoba menghidupkan kembali keceriaan masa kecil lewat Festival Dolanan Anak halaman depan Pendopo Kabupaten Batang, Rabu (1/7/2026).
Berbagai permainan tradisional yang sempat akrab di generasi 80 hingga 90-an kembali dimainkan, mulai dari gobak sodor, egrang, hingga engklek atau suda manda.
Festival yang menjadi bagian dari program Ketan Budaya tersebut bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan upaya menanamkan kembali nilai budaya, kebersamaan, dan aktivitas fisik kepada anak-anak sejak usia dini.
Bupati Batang, M Faiz Kurniawan, menyampaikan festival tersebut membangkitkan nostalgia masa kecilnya saat permainan tradisional masih menjadi hiburan utama anak-anak sebelum era gadget hadir seperti sekarang.
“Era 80-an dan 90-an dulu gadget belum semasif sekarang. Kami sering bermain gobak sodor, dakon, sampai egrang. Tadi saya sempat mencoba egrang lagi, ternyata sudah tidak bisa lagi,” kata Bupati Batang , Rabu (1/7/2026).
Faiz bahkan mengenang pengalaman lucu saat bermain gobak sodor ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya masih ingat waktu main gobak sodor, celana saya tertarik saat tertangkap lawan sampai mrojol. Itu waktu kelas dua SD dan belum pakai celana dalam lagi,” ucapnya.
Menurutnya, permainan tradisional sesungguhnya merupakan bentuk olahraga yang dikemas secara menyenangkan karena mampu melatih fisik, kemampuan berpikir, sekaligus keterampilan sosial anak.
“Permainan-permainan ini dampak positifnya sangat banyak. Gobak sodor melatih gerak dan kebugaran fisik, dakon melatih berpikir, sementara engklek atau suda manda melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh. Anak-anak bergerak aktif tetapi tetap merasa senang,” ungkapnya.
Orang nomor satu Kabupaten Batang ingin permainan tradisional nantinya dapat menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah – sekolah dasar di Kabupaten Batang sehingga anak-anak memiliki alternatif aktivitas selain bermain gadget.
“Kami ingin permainan-permainan ini dikenalkan kembali kepada anak-anak agar mereka tidak terlalu bergantung pada gadget, tetapi juga mengenal permainan yang dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Soedibyo mengatakan Festival Dolanan Anak lahir dari keprihatinan terhadap semakin menurunnya pengetahuan anak-anak terhadap budaya bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan penggunaan gawai.
“Anak-anak sekarang lebih mengenal permainan modern dan budaya luar dibandingkan dolanan tradisional yang merupakan warisan leluhur. Karena itu kami ingin menghadirkannya kembali melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” kata Bambang kepada Tribunjateng.
Festival tersebut sekaligus menjadi peluncuran program Ketan Budaya yang akan diterapkan secara bertahap di sekolah dasar melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Sebanyak 11 sekolah dari Kecamatan Batang, Kandeman, dan Tulis telah ditunjuk sebagai pilot project.
Dalam festival itu, sedikitnya terdapat sepuluh jenis permainan tradisional yang diperkenalkan kembali kepada siswa, antara lain Gobak Sodor, Egrang, Suda Manda, Semprangan, Bekelan, Nekeran, Yoyo, hingga Das-dasan atau Dam-daman.
Menurutnya, permainan tradisional memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar hiburan.
Selain melatih kemampuan motorik dan sensorik, permainan tersebut juga mengajarkan nilai-nilai karakter seperti kerja sama, sportivitas, kepemimpinan, komunikasi, hingga pengendalian emosi.
“Anak-anak belajar bekerja sama dalam kelompok, mematuhi aturan, menghargai teman, dan berkompetisi secara sehat. Nilai-nilai seperti inilah yang ingin kami tanamkan sejak usia dini,” ujarnya.
Ia menilai permainan tradisional dapat menjadi alternatif positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget yang kini semakin mendominasi aktivitas sehari-hari.
“Jangan sampai anak-anak hanya mengenal permainan digital, tetapi tidak mengenal permainan yang dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Keceriaan festival juga dirasakan para peserta.
Satu di antara Rafiza Cinta Akuina (9) kelas 4, siswi berusia 9 tahun dari SD Tunas Harapan Kulon 01 yang untuk pertama kalinya mengikuti perlombaan permainan tradisional.
Dengan wajah antusias, siswi yang akan naik ke kelas empat tersebut mengaku senang bisa mencoba permainan suda manda bersama teman-temannya.
“Seru dan menyenangkan. Ini pengalaman baru buat saya,” ucapnya.
Bagi Akuina, liburan sekolah kali ini terasa berbeda karena ia tidak hanya bermain, tetapi juga mengenal permainan yang sebelumnya jarang ia temui.
Melalui Festival Dolanan Anak, Pemerintah Kabupaten Batang berharap permainan tradisional tidak hanya hidup kembali saat perlombaan berlangsung, tetapi benar-benar kembali menjadi bagian dari keseharian anak-anak di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal mereka.
Di tengah dunia yang semakin digital, suara tawa anak-anak yang berlarian di arena gobak sodor, melompat di kotak engklek, atau menjaga keseimbangan di atas egrang menjadi pengingat bahwa permainan sederhana ternyata menyimpan pelajaran besar tentang budaya, kebersamaan, dan tumbuh kembang anak.
