www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,17 Agustus 2026-Warga nelayan Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, terancam mengalami gagal panen kerang hijau tahun ini. Kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan kerang hijau dinilai melambat.
Warga Tambakrejo, yang juga sebagai Ketua Koperasi Kampung Nelayan Tambakrejo Sejahtera, Dani Rujito mengatakan kondisi nelayan dalam lima tahun terakhir semakin sulit.
Nelayan tradisional yang sebelumnya mengandalkan jaring kini beralih membudidayakan kerang hijau karena hasil tangkapan ikan dan kepiting terus menurun.
“Nah kalau menurut saya semakin parah sekarang, karena kami dulu nelayan tradisional pakainya jaring. Kenapa kami beralih ke kerang hijau? Karena kami sekarang sudah enggak bisa pakai jaring karena (beradu dengan) alat-alat yang lebih canggih. Bahkan ada alat yang bukan ramah lingkungan lagi,” kata Dani di kampung tersebut, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, budidaya kerang hijau mulai dikembangkan warga sekitar 2018 sebagai alternatif mata pencaharian. Pada awalnya, budidaya tersebut memberikan hasil yang cukup baik dan menjadi harapan baru bagi nelayan.
“Awal mulanya kami juga bahagia karena itu menjadi pengalihan dari tangkap ikan, jadi budidaya kerang hijau. Karena kembali lagi ke ekonomi kami dengan kerang hijau tadi dan kami kembangkan lagi memang yang dulu itu potensi. Kalau banyak bambunya pasti banyak kerang hijaunya. Itu yang menjadi harapan kami,” terangnya.
Dani menjelaskan, dalam budidaya kerang hijau, nelayan biasanya menancapkan bambu sebagai media menempelnya kerang pada sekitar Maret sampai Mei. Kerang kemudian membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga siap dipanen.
“Kami mulai penancapan bambu itu di bulan sekitar bulan Maret sampai Mei itu kami menancapkan, tunggu sampai 6 bulan baru bisa panen. Dan sekarang bahkan hampir sudah 6 bulan belum bisa dipanen,” keluhnya.
Menurut Dani, biasanya memasuki Agustus nelayan sudah mulai memanen kerang hijau secara bertahap. Namun tahun ini ukuran kerang dinilai masih sangat kecil sehingga belum dapat dipanen.
Sekarang itu sebenarnya di bulan Agustus kami sudah mulai panen sedikit-sedikit. Tapi kenapa sekarang kerang hijaunya kecil-kecil, masih sekuku-kuku ini,” sebutnya.
Ia menduga berkurangnya arus air menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan kerang hijau tidak maksimal. Kondisi itu berbeda dengan tahun sebelumnya ketika arus masih cukup kuat.
“Tahun kemarin normal. Karena jalan tol belum ditutup. Tahun lalu karena arusnya masih banyak nih. Nah sekarang sudah mulai ditutup rapat arusnya berkurang,” katanya.
Dani mengatakan, kerang hijau sangat bergantung pada arus untuk mendukung pertumbuhannya. Menurutnya, perubahan aliran sungai di kawasan tersebut turut memengaruhi kondisi budidaya.
“Sebenarnya kalau pertumbuhan siklus kerang hijau itu kan mengandalkan arus. Kalau arusnya itu lebih baik itu lebih bagus cepat pertumbuhannya. Tapi kalau arusnya berkurang, pertumbuhannya juga kurang,” terangnya.
Ia menyebut sebelumnya terdapat aliran dari Kali Babon dan Kali Sringin yang turut mendukung kondisi perairan. Saat ini, menurutnya, aliran yang menjadi andalan semakin terbatas.
“Ya karena faktor dulu kan sungai-sungai Kali Babon, Kali Sringin itu kan masih ada nih. Dan sekarang hanya mengandalkan satu sungai di banjir kanal timur (BKT). Bahkan sungai BKT ini sering kalau pasca penghujan pasti banjir. Dan kalau banjir itu pasti kerang hijau kita mati. Kan gitu,” tuturnya.
Dari sisi hasil budidaya, Dani menyebut dirinya memiliki lima rumpon dengan masing-masing sekitar 500 bambu. Jumlah tersebut bertambah dari sebelumnya yang hanya memiliki satu rumpon.
“Satu bambu yang paling sedikit itu mungkin sampai sekitar 10 sampai 5 kg itu paling sedikit satu bambunya. Nah dulu itu di harga Rp5.000 kalau jual per bambunya. Itu kalau 5 kg. Kalau 10 kg, kami sudah untung satu bambunya Rp10.000,” sebutnya.
“Tapi kalau bambu kita semakin banyak, berarti semakin banyak hasilnya kan. Dan itu berjalan beberapa tahun kemudian sejak 2019 sampai sekarang. Itu dulu saya punya satu rumpon. Sekarang saya sudah punya lima rumpon di tahun kemarin,” ujarnya.
Pada tahun lalu, hasil budidaya dari lima rumpon miliknya masih memberikan pendapatan yang cukup baik. Dani menyebut hasil bersihnya hampir mencapai Rp25 juta.
“Tahun kemarin hasilnya bersih itu sekitar ada hampir Rp25 jutaan,” ucapnya.
Namun tahun ini, hingga pertengahan Agustus, dirinya mengaku belum memperoleh hasil panen sama sekali.
“Tahun ini belum sama sekali. Biasanya kalau hari gini kami sudah mulai panen sedikit. Ini sama sekali enggak, belum bisa ini,” katanya.
Dani mengatakan potensi kerugian baru dapat diketahui secara pasti pada November. Jika hingga bulan tersebut kerang tidak dapat dipanen, nelayan berpotensi mengalami kerugian besar karena memasuki musim gelombang barat.
“Ya kalau kerugian kami belum lihat karena kan ini belum sampai sampai hasil akhir. Biasanya kami di akhir di November. Kalau November itu kami tidak bisa panen, berarti kami rugi total karena setelah November pasti pasca musim gelombang barat. Dan pastinya itu kena gelombang barat bambu kami semuanya patah dan banyak yang hilang,” bebernya.
Selain berdampak pada budidaya kerang hijau, kondisi perairan juga dinilai menyulitkan nelayan yang masih mengandalkan penangkapan ikan.
Dani mengatakan hasil tangkapan kepiting yang dahulu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari kini nyaris tidak didapat.
“Kami sudah mulai tidak menjaring itu setelah tahun 2000-an, karena memang kesulitan. Dulu kami sebelum kesulitan pakai jaring itu satu malam prioritas kepiting. Semalam kami buat makan sudah cukup lah. Tapi setelah muncul alat-alat yang bukan ramah lingkungan tadi, bahkan sekarang ini kami semalam cari kepiting satu ekor sudah enggak dapat,” katanya.
Ia menyebut penggunaan alat tangkap yang dinilai tidak ramah lingkungan juga membuat ruang penangkapan nelayan tradisional semakin terbatas.
“Ada arat atau sodo, pukat, itu kan sekarang sudah mulai ke pinggir-pinggir. Jadi alat seperti kami nelayan seperti itu malah bahkan ruang penangkapan kami semakin tidak menentu. Karena kalau kami paksakan pakai jaring, sering jaring kami itu hilang kena timpa dengan perahu-perahu yang besar,” ujarnya.
Dani juga menyoroti dampak pembangunan kawasan tol terhadap kondisi perairan dan aktivitas nelayan. Sebelum kawasan tersebut ditutup, nelayan masih dapat mencari ikan di area yang kini tidak lagi mudah diakses.
“Dulu sebelum ada tol laut itu dibangun, kami masih bisa mencari ikan itu di dalam tol itu yang belum dibangun. Karena di situ kalau pasca gelombang itu tidak terlalu besar. Jadi kami bisa kalau pasca gelombang besar itu masih bisa mencari di situ. Tapi sekarang sudah mulai ditutup itu kami enggak bisa,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan kondisi tersebut membuat nelayan harus mempertimbangkan perubahan alat tangkap dan ukuran perahu agar dapat menghadapi gelombang yang lebih besar.
“Bahkan perahu-perahu kami pun mau merapat ke pinggir kan sekarang sudah di dalam lagi. Dan mungkin alat kami harus diperbarui juga. Kalau kami mau paksakan pasti ganti alat tangkap. Juga mungkin perahu kami juga harus diperbesar lagi,” tuturnya.
Ia menambahkan, gelombang balik dari tepian menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi nelayan setelah kawasan tersebut tertutup.
“Sebenarnya itu enggak mengganggu. Cuman gelombangnya itu kan kalau dari arah laut kalau ke tepian itu pasti kan dia kembali lagi, dan itu yang lebih bahaya lagi,” tuturnya.
Dani berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan tradisional.
“Ya harapan kami yang kami pernah disosialisasikan bahwa nelayan kecil itu memang harus diperhatikan. Dan memang sebenarnya harus dibuktikan, karena apa-apa kami berpikir sendiri untuk melakukan untuk bertahan hidup,” imbuhnya.
Warga lain, Marzuki mengatakan, kondisi hasil panen semakin menurun setelah adanya pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak (TTLSD). Menurutnya, nelayan semakin sulit mengakses ruang tangkap.
Ia menambahkan, nelayan kini harus menghadapi ruang tangkap yang semakin terbatas. Kondisi itu membuat nelayan tradisional harus berhadapan dengan aktivitas nelayan yang lebih besar di wilayah tangkap yang tersisa.
“Pasca adanya TTLSD kami ‘terlempar’ di ruang tangkap yang cenderung berbenturan oleh nelayan besar,” ujarnya.
Menurut Marzuki, kondisi tersebut turut berdampak pada hasil tangkapan ikan yang semakin sedikit. Nelayan yang sebelumnya masih dapat mengandalkan kawasan tersebut untuk mencari ikan kini merasakan perairan yang semakin sepi.
“Sehingga semakin hari semakin ke sini ikan cenderung tipis, cenderung sepi,” keluhnya.
Ia juga menyebut perubahan kondisi perairan tidak hanya dirasakan dari hasil tangkapan. Terumbu karang yang dahulu dapat tumbuh dengan baik, menurutnya, kini banyak yang tidak lagi berkembang di kawasan tersebut.
“Bahkan terumbu karang yang dahulu bisa hidup dengan dengan ‘royo-royo’, sekarang itu bekas TTLSD itu cenderung mati atau cenderung enggak tumbuh begitu,” imbuhnya.
