www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,7 Mei 2026-Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen buka suara kasus pencabulan terhadap puluhan santriwati di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin itu mengatakan, kasus tersebut sudah terpantau semenjak tahun 2024.
Ia juga mengapresiasi keberanian korban dan pendamping yang terus mengawal hingga perkara kembali diusut.
“Kasus sudah lama ya. Kami pantau sejak tahun 2024 itu sudah muncul. Kami apresiasi kepada masyarakat, lembaga-lembaga, khususnya dari NU sendiri yang bersama-sama mengajak korban untuk berani berbicara,” kata Gus Yasin usai Rakerda Himperra, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, keberanian korban untuk speak up menjadi bagian penting dalam upaya memberantas kekerasan seksual, baik di lingkungan sekolah maupun pondok pesantren.
Pemprov Jateng, lanjut dia, saat ini menjalankan program Kecamatan Berdaya yang di dalamnya mencakup pendampingan hukum bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.
“Kami kerja sama dengan NU, Muhammadiyah, Muslimat, Fatayat maupun Aisyiyah untuk pelatihan-pelatihan paralegal di 35 kabupaten/kota,” ujarnya.
Gus Yasin menegaskan, pengawalan terhadap korban menjadi hal yang lebih penting dibanding hanya mengawal proses hukum pelaku.
Ia menyebut sebagian korban masih berstatus pelajar sehingga membutuhkan pendampingan psikologis maupun jaminan pendidikan agar tidak kehilangan masa depan.
“Yang lebih penting adalah masyarakat yang menjadi korban. Mereka masih anak-anak, masih usia sekolah. Kita harus memastikan mereka masih berani untuk sekolah karena masa depan mereka masih panjang,” jelasnya.
Ia mengatakan pendampingan dilakukan lintas sektor mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan hingga Dinas Perempuan dan Anak.
Bahkan, Pemprov Jateng membuka kemungkinan bantuan pendidikan gratis bagi korban dari keluarga tidak mampu.
“Insyaallah kami komitmen bahwa masyarakat yang tidak mampu akan kita beri biaya sekolah gratis,” katanya.
Gus Yasin juga menegaskan kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di lingkungan pondok pesantren, melainkan juga di berbagai lembaga pendidikan lainnya.
Karena itu, pihaknya mendorong edukasi kepada siswa melalui forum anak agar berani melapor jika mengalami atau mengetahui tindakan kekerasan.
“Kita ajak anak-anak forum anak untuk memberikan edukasi, melaporkan kejadian-kejadian sekecil apa pun. Mereka harus berani speak up supaya bisa tertangani,” ujarnya.
Selain itu, Pemprov Jateng juga menggandeng Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU untuk memberikan edukasi pencegahan kekerasan di pondok pesantren.
Menurutnya, pekan lalu RMI Jateng telah mengumpulkan para pengasuh pondok pesantren untuk mendapatkan edukasi terkait perlindungan anak dan perempuan.
“Besok tanggal 10 juga lewat RMI Putri kami kolaborasi di Banjarnegara untuk menyisir pondok-pondok pesantren di wilayah Jawa Tengah bagian barat,” katanya.
Terkait pengawasan pondok pesantren, Gus Yasin menyebut Pemprov Jateng selama ini telah melakukan edukasi rutin bersama UNICEF, PKK, serta dinas terkait.
Namun, ia mengakui masih ada oknum yang memanfaatkan posisi dan ketakutan korban, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Mereka ditakut-takuti kalau tidak mau ikut anjuran oknum tersebut akan diganti. Sehingga yang harus dibangun supaya mereka berani speak up,” tandasnya.
