www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,6 Mei 2026-Udara pagi masih terasa sejuk. Suara gemericik sungai terdengar dari Jembatan Gantung Perintis Garuda yang menjadi penghubung Desa Siwal dan Desa Mukiran, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Rabu (6/5/2026).
Sejumlah anak berseragam sekolah melangkahkan kaki di atas jembatan yang tersusun dari besi kokoh itu. Setiap pijakan membuat jembatan bergoyang pelan, dan tubuh mereka pun ikut terayun.
Bagi anak-anak di Desa Siwal, Mukiran, dan sekitarnya, jembatan ini bukan sekadar penghubung, melainkan menjadi jalan menuju gerbang masa depan.
Seorang siswa SD Siwal 02, Nurfadilah Khoirunnisa menceritakan kesehariannya berangkat dari rumahnya, di Desa Togaten. Sebelum ada jembatan tersebut, dia berangkat sekolah memutar sekitar tiga kilometer. Karena jauh, ia pun seringkali diantar oleh orang tuanya.
Jika tidak diantar, satu-satunya alternatif agar memutar jauh yakni dengan menyeberangi Sungai Cengek. Menyeberangi sungai tanpa jembatan bukan perkara mudah Nisa, sapaannya, harus melepas sepatu agar tidak basah. Lalu, ia berjalan hati-hati di atas aliran air. Dengan sedikit menaikkan roknya agar tak masuk air, ia harus menjaga agar badan tetap seimbang sembari membawa sepatu.
Kini, pengalaman itu tinggal masa lalu. Hadirnya Jembatan Gantung Perintia Garuda membuat perjalanannya lebih mudah. Jarak tempuh menjadi lebih dekat dan aman. Ia pun tak perlu lagi repot melepas sepatu atau khawatir terpeleset di sungai.
“Sebelum ada jembatan muter, kalau nggak lewat sungai sambil mencopot sepatu agar tidak basah. Setelah ada jembatan ini, akses jadi lebih dekat dan mudah,” ungkapnya.
Ia pun bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan perhatian dengan pembangunan jembatan di desa yang jauh dari pusat kota ini.
“Terima kasih pemerintah, terima kasih Pak Prabowo sudah memberikan perhatian kepada kami yang tinggal di desa,” ucapnya.
Kepal Desa Siwal, Parnu mengatakan, kehadiran jembatan tersebut membawa dampak besar bagi warga. Selain akses ke lembaga pendidikan lebih mudah, juga berdampak pada aktivitas ekonomi hingga pertanian warga. Sebelum ada jembatan, akses warga cukup sulit. Untuk menuju ladang atau desa seberang, warga harus turun ke sungai, menyeberang, lalu naik kembali. Belum lagi saat kondisi hujan, warga tak berani melewati sungai karena khawatir terjadi banjir bandang. Akibatnya, warga harus memutar jauh, bahkan melewati wilayah Boyolali.
“Memutar bisa lebih dari tiga kilometer, bahkan harus lewat wilayah Boyolali. Padahal jaraknya hanya sekitar 100 meter dari sini. Kalau akses dari sana (Boyolali) tertutup, warga tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.
Kini, dengan adanya jembatan sepanjang 70 meter, lebar 1,3 meter, dan ketinggian sekitar 15 meter tersebut, akses menjadi jauh lebih mudah. Diakuinya, banyak warga Siwal yang memiliki ladang di Desa Mukiran. Begitu pun sebaliknya, banyak warga Mukiran yang beraktivitas di di Siwal. Sehingga, jembatan ini menjadi denyut nadi ekonomi warga sekitar.
“Manfaatnya sangat luar biasa. Tidak hanya warga kabupaten Semarang, Boyolali, Solo, banyak lewat jembatan ini,” katanya.
Sejak awal 2026, jembatan ini sudah dimanfaatkan warga. Parnu menuturkan, pembangunannya dilakukan secara gotong royong, melibatkan warga, TNI, dan pemerintah hingga akhirnya rampung dan bisa digunakan.
“Terima kasih untuk Bapak Prabowo atas pembangunan jembatan ini,” ucapnya.
