Ini yang Dimiliki Banyumas Tapi Tak Ada di Daerah Lain hingga Bisa Rebut Proyek Nasional

www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,5 Mei 2026-Kedekatan emosional Presiden Prabowo Subianto dengan Banyumas dinilai bukan sekadar cerita historis.

Hal ini dapat menjadi peluang strategis yang bisa “dijual” secara cerdas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas mempercepat pembangunan daerah.

Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Soedirman, Ahmad Sabiq, menyebut momentum ini sebagai kesempatan langka yang harus dimanfaatkan melalui pendekatan “diplomasi kultural”.

Menurutnya, akar historis Presiden Prabowo dengan Banyumas menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Kakek Presiden, R.M. Margono Djojohadikusumo, merupakan tokoh penting asal Banyumas yang dikenal sebagai pendiri BNI sekaligus pelopor koperasi Indonesia.

Hingga kini, makam keluarga Djojohadikusumo masih terawat di Dawuhan, Kecamatan Banyumas, menjadi simbol kuat keterikatan historis tersebut.

“Presiden berkali-kali membanggakan ‘darah Banyumas’-nya dalam berbagai forum.

Dalam kacamata politik, ini adalah modal diplomasi kultural yang sangat bernilai,” ujar Sabiq.

Namun demikian, ia mengingatkan kedekatan emosional saja tidak cukup untuk menarik perhatian pemerintah pusat, terutama di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional.

Pemkab Banyumas, kata dia, harus mampu mengemas pendekatan tersebut secara elegan dan rasional.

Beberapa strategi yang bisa dilakukan antara lain revitalisasi kawasan makam Dawuhan yang terintegrasi dengan desa wisata, hingga pengusulan pembangunan pusat pendidikan atau lembaga koperasi yang mengusung nama besar Margono Djojohadikusumo.

Banyumas juga didorong menawarkan diri sebagai lokasi uji coba program nasional agar mendapat prioritas perhatian dari pemerintah pusat.

“Upaya “nyundul” anggaran tidak akan berhasil apabila program yang diajukan tidak selaras dengan prioritas pusat.

Narasi kebanggaan lokal harus dibarengi kesiapan teknis yang matang,” tegasnya.

Ia menambahkan, sinkronisasi dengan visi “Asta Cita” milik Presiden menjadi kunci utama agar usulan daerah dapat diterima.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono menegaskan bahwa kepala daerah saat ini tidak bisa hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Terlebih di tengah kondisi efisiensi anggaran, pemerintah daerah dituntut lebih kreatif dalam mencari peluang pembiayaan pembangunan.

“Pemda tidak bisa lagi hanya mengandalkan transfer dana pusat yang konstan.

Kepala daerah harus bisa memasarkan daerahnya dengan rencana pembangunan yang jelas,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “bupati sekaligus marketing” untuk memastikan pembangunan tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran.

Salah satu langkah konkret yang tengah diusulkan Pemkab Banyumas adalah pembangunan sekolah terintegrasi di Kecamatan Banyumas.

Pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas sekitar 20 hektare untuk mendukung rencana tersebut.

“Saya sedang mengusulkan adanya sekolah terintegrasi, proyeksinya ada di Kecamatan Banyumas.

Lahannya sudah tersedia sekitar 20 hektare milik Pemda,” kata Sadewo , Senin (4/5/2026).

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga sempat mengunjungi Tempat Pengolahan Akhir (TPA) BLE di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Selasa (28/4/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Presiden mengaku terkesan dengan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Banyumas. Dan disela-sela kegiatan ia selalu menyempatkan berziarah ke makam kakeknya di Dawuhan.

Dengan kombinasi antara kedekatan emosional, strategi diplomasi kultural, serta kesiapan program yang selaras dengan kebijakan nasional, Banyumas dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu daerah yang mengalami percepatan pembangunan signifikan dalam lima tahun ke depan.