www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,17 September 2026-Bagi Esti Lestari, mengikuti skrining Thalasemia menjadi pengalaman pertama yang membuatnya mengetahui lebih jauh tentang penyakit genetik yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anak.
Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) itu mengikuti pemeriksaan skrining Thalasemia bersama sekitar 1.000 mahasiswa UMP.
Screening itu bersamaan kegiatan Seminar dan Kuliah Umum Interprofessional Education (IPE) Thalasemia: Skrining Thalasemia dan Kesehatan Pra Nikah.
Kegiatan tersebut digelar di Auditorium Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kamis (17/8/2026).
Esti mengatakan, dirinya baru pertama kali mengikuti skrining thalasemia.
Menurutnya, kesempatan tersebut diambil karena pemeriksaan merupakan bagian dari kegiatan yang disarankan oleh kampus.
“Thalasemia ini salah satu penyakit genetik yang bisa diturunkan. Mumpung disarankan oleh kampus jadi diambil saja.
Nanti download aplikasi untuk tahu hasil,” ucap Esti kepada Tribunbanyumas.com.
Hal serupa disampaikan mahasiswa lainnya, Khusaibah. Ia mengaku telah mengambil sampel darah untuk mengikuti skrining Thalasemia dalam kegiatan tersebut.
“Tadi di screening dan baru pertama kali, untuk deteksi dini dan dites langsung tadi,” katanya.
Skrining thalasemia yang diikuti sekitar 1.000 mahasiswa tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan pentingnya deteksi dini, khususnya bagi generasi muda yang nantinya akan memasuki fase kehidupan berkeluarga.
Rektor UMP, Prof. Jebul Suroso, mengatakan kegiatan skrining diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya mahasiswa, mengetahui kondisi kesehatan lebih awal.
Ia berharap melalui skrining tersebut, kondisi yang berkaitan dengan Thalasemia dapat diketahui sedini mungkin.
“Harapannya adalah lebih awal mengetahui dengan screening ini,” kata Jebul dalam sambutannya.
Menurutnya, pertumbuhan jumlah penduduk yang sedang berjalan saat ini perlu diiringi dengan upaya menghasilkan generasi yang sehat.
Karena itu, edukasi dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kesehatan sejak usia muda.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, Dani Esti Novia, mengatakan pencegahan Thalasemia bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan.
Ia mengajak masyarakat yang telah memperoleh informasi mengenai Thalasemia turut menyampaikan pengetahuan tersebut kepada lingkungan sekitar.
“Sampaikan pada lingkungan karena pencegahan bukan hanya tenaga kesehatan tapi semua pihak,” ujarnya.
Dani menyebut, hingga saat ini terdapat sebanyak 657 pasien Thalasemia yang terdaftar di RS Margono dan RSUD Banyumas.
Menurutnya, upaya pencegahan perlu terus dilakukan untuk memutus mata rantai thalasemia mayor menuju target zero thalasemia.
Dalam kegiatan tersebut, skrining tidak hanya dipandang sebagai pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran generasi muda mengenai thalasemia, termasuk kaitannya dengan kesehatan pra nikah.
Pihak penyelenggara berharap pengetahuan yang diperoleh mahasiswa tidak berhenti setelah mengikuti seminar dan pemeriksaan.
Finance Sustainability Director PT Prodia Widyahusada, Marina Eka Amalia, mengatakan kegiatan skrining thalasemia merupakan bagian dari upaya memberikan akses layanan kesehatan yang lebih luas kepada masyarakat.
Menurutnya, kehadiran dalam kegiatan pemeriksaan bukan sekadar melakukan pengambilan sampel darah.
Lebih dari itu, skrining menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan sekaligus membangun kesadaran sejak dini.
“Screening Thalasemia sebagai bagian dari upaya memberikan akses layanan kesehatan lebih luas.
Hadir tidak saat pemeriksaan tapi langkah awal menjaga kesehatan dan membangun kesadaran sejak dini,” ujar Marina.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat dibagikan kembali kepada orang lain sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Melalui kegiatan Seminar dan Kuliah Umum Interprofessional Education (IPE) Thalasemia: Skrining Thalasemia dan Kesehatan Pra Nikah tersebut, sekitar 1.000 mahasiswa UMP mendapat kesempatan untuk mengikuti skrining thalasemia sekaligus memperoleh pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini dan kesehatan pra nikah.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda mengetahui kondisi kesehatan sejak awal serta ikut berperan dalam upaya pencegahan thalasemia di Banyumas.
