www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,29 Agustus 2026-Daya beli masyarakat yang menurun di tengah kondisi ekonomi saat ini turut dirasakan pelaku usaha ritel elektronik di Kota Semarang.
Kondisi tersebut membuat toko elektronik harus memutar strategi agar konsumen tetap tertarik berbelanja, salah satunya dengan menawarkan promo dan harga yang kompetitif.
Owner Atlanta Elektronik, Santoso Kurniadi, mengatakan penurunan daya beli menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri elektronik saat ini.
“Memang ada penurunan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini. Cuma kami tetap berupaya memberikan promo dan harga yang bersaing untuk menarik minat beli,” kata Santoso, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, kondisi pasar elektronik saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Konsumen memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan produk, baik melalui toko fisik maupun berbagai platform penjualan online.
Situasi itu membuat pelaku usaha ritel elektronik tidak cukup hanya mengandalkan penjualan dalam jumlah besar.
Pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, harga, hingga layanan purnajual menjadi bagian penting dalam mempertahankan bisnis.
“Sekarang tantangannya berbeda. Kami tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan dalam jumlah besar, tetapi harus melihat kebutuhan konsumen dan menjaga hubungan dengan para mitra,” ujarnya.
Atlanta Elektronik sendiri telah menjalankan bisnis di bidang ritel elektronik sejak 1995.
Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan tersebut telah melewati berbagai perubahan dalam industri, termasuk perubahan pola belanja masyarakat.
Santoso mengatakan, keberadaan toko fisik masih memiliki keunggulan karena konsumen dapat melihat dan mencoba produk secara langsung.
Konsumen juga bisa mendapatkan penjelasan mengenai tipe serta penggunaan barang sebelum membeli.
Selain itu, layanan purnajual menjadi pertimbangan yang menurutnya penting, terutama ketika konsumen membandingkan harga produk di toko fisik dengan harga yang ditawarkan melalui platform online.
“Kalau ada konsumen mengatakan harga online lebih murah, kami harus menjelaskan bahwa konsumen juga perlu melihat tipe barang dan layanan yang didapat. Ketika barang bermasalah setelah dibawa pulang, mereka membutuhkan tempat untuk mendapatkan solusi,” jelasnya.
Untuk menghadapi persaingan tersebut, Atlanta memilih memperkuat hubungan dengan produsen, grosir maupun toko mitra.
Jaringan tersebut menjadi salah satu modal untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah perubahan pasar.
Langkah tersebut mendapat dukungan dari 14 brand elektronik nasional maupun internasional yang selama ini menjalin kerja sama dengan Atlanta.
Direktur PT Hartono Istana Teknologi, Tekno Wibowo, mengatakan Polytron telah menjadi bagian dari perjalanan Atlanta sejak 1986.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai produk, mulai televisi, kulkas, mesin cuci hingga kendaraan listrik dan mobil.
Dukungan serupa disampaikan Kenny Kwe, CEO PT Akari Indonesia.
Menurutnya, hubungan dengan Atlanta telah berlangsung sejak 1970, termasuk melalui produk Philips seperti water heater dan AC.
Dari sisi ritel, Sales Director PT LG Electronics Indonesia, Erwan Zheng, menilai kemampuan Atlanta bertahan selama lebih dari tiga dekade menjadi pencapaian tersendiri.
Menurut dia, fokus Atlanta terhadap bisnis ritel menjadi salah satu kekuatan perusahaan dalam menghadapi perubahan industri elektronik.
Sementara itu, CEO PT Kreasi Arduo Indonesia, Robert Widjaja, menyebut Atlanta sebagai salah satu mitra strategis bagi Artugo. Ia berharap kerja sama kedua perusahaan dapat terus berkembang.
“Kami akan terus memperkuat kerja sama dengan Atlanta. Harapannya Artugo bisa tumbuh bersama Atlanta,” katanya.
Tantangan industri juga menjadi perhatian Senior GM Nasional Sales & Marketing PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo.
Ia mengatakan pelaku industri elektronik saat ini menghadapi perubahan pasar sekaligus tantangan regulasi. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu beradaptasi agar tetap mampu bertahan.
“Sekarang tantangannya lebih nyata. Kita harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang ada agar tetap bertahan dan terus memberikan kontribusi kepada masyarakat,” jelasnya.
Perkembangan teknologi juga diperkirakan akan semakin memengaruhi industri elektronik. Retail Head Director PT Samsung Electronics Indonesia, Praryadi Slamet, mengatakan perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), akan turut membentuk produk elektronik dan pola konsumsi masyarakat.
“Kami yakin bersama Atlanta dan seluruh mitra elektronik, kita bisa maju dan berkembang bersama. Harapannya Atlanta bukan hanya bertahan 30 tahun, tetapi bisa terus berkembang hingga 100 tahun ke depan,” katanya.
Dukungan terhadap Atlanta juga datang dari sejumlah brand lain, di antaranya Sony, AQUA, NIKO dan Changhong.
Managing Director PT Niko Elektronik Indonesia, Siswo Handoyo, mengatakan hubungan bisnis dengan keluarga Santoso bahkan telah berlangsung lintas generasi.
“Ini hubungan bisnis yang sudah diteruskan ke generasi kedua. Saya bangga brand lokal NIKO bisa hadir berdampingan dengan brand internasional maupun lokal lainnya di Atlanta,” ujarnya.
Sementara Branch Manager Changhong Jawa Tengah, Ega, mengapresiasi perjalanan Atlanta dalam mempertahankan bisnis ritel elektronik di tengah perubahan pasar.
Selain Polytron, Akari, Artugo, LG, Sharp, Sony, Samsung, AQUA, NIKO dan Changhong, dukungan juga datang dari Daikin, Midea, MODENA dan TCL.
Total 14 brand tersebut hadir dalam momentum pembukaan showroom Atlanta Elektronik di Semarang.
Santoso berharap dukungan dan kolaborasi dengan para produsen dapat menjadi modal bagi Atlanta untuk menghadapi persaingan industri elektronik ke depan.
“Kami ingin terus berjuang, beradaptasi dan mendapat dukungan masyarakat Semarang agar Atlanta tetap dipercaya dan bisa memberikan kontribusi,” pungkasnya.
Reopening showroom Atlanta Elektronik di Semarang menjadi momentum bagi perusahaan untuk kembali memperkuat layanan ritel sekaligus mendekatkan produk elektronik kepada masyarakat.(
