www.Seputar Usaha.com.ǁJawa Tengah,25 Mei 2026-Dinas Pertanian Kota Semarang mencatat kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi di wilayahnya tahun ini mencapai enam ekor.
Kasus tersebut ditemukan di Kecamatan Ngaliyan dan Banyumanik.
Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shotiah mengatakan, masing-masing wilayah mencatat tiga kasus PMK.
Menurutnya, kondisi ternak yang terpapar saat ini mulai menunjukkan perkembangan pemulihan.
“Kalau kasus PMK di Kota Semarang, informasi yang masuk memang kemarin sempat ada di Kecamatan Ngaliyan dan ada di Banyumanik. Itu sempat ada dan itu pun alhamdulillah tidak banyak dan saat ini sudah mulai penyembuhan. Sudah perkembangan juga bagus,” ujarnya di sela sidak lapak hewan kurban di Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Senin (25/5/2026).
Shotiah mengatakan, penanganan PMK saat ini dinilai lebih baik dibanding awal kemunculan wabah beberapa waktu lalu.
Peternak disebut sudah lebih memahami cara mengenali gejala maupun penanganan penyakit tersebut.
“Artinya bahwa tidak seperti awal mula PMK waktu itu ada. Jadi kita dari petani sendiri, peternak sendiri juga panik untuk bagaimana cara penanganannya, mengenalinya juga masih bingung. Tapi saat ini sudah ada vaksin dan kita setiap saat juga melakukan vaksinasi untuk ternak-ternak yang ada di Kota Semarang,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah melakukan vaksinasi secara berkala terhadap ternak di Kota Semarang untuk menekan penyebaran PMK.
“Jadi peternak sudah lebih paham, sudah lebih paham bagaimana cara menangani, cara mengenali, sehingga ini perkembangan sudah sudah bagus,” lanjutnya.
Terkait jumlah kasus, Shotiah menyebut terdapat enam ternak yang terpapar PMK.
“Kemarin tiga di Ngaliyan dan tiga di Banyumanik. Berarti enam itu,” ucapnya.
Menurutnya, ternak yang telah teridentifikasi PMK langsung dipisahkan dari hewan lain guna mencegah penularan lebih luas.
“Itu berarti hewan ternaknya disendirikan dari yang lain, karena kalau sudah begitu harus disendirikan. Kalau sudah teridentifikasi PMK, harus diisolasi. Jadi nanti sampai sampai dia penyembuhan itu,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, terdapat satu sapi anakan di Ngaliyan yang dilaporkan meninggal dunia dan diduga terkait PMK. Shotiah menyebut sapi tersebut belum sempat menerima vaksinasi.
“Itu salah satunya yang di ngaliyan ya itu. Itu juga dia kan masih anakan ya, jadi belum sempat divaksin, sehingga dia mungkin pas waktu itu sepertinya ada serangan,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti penularan pada ternak tersebut.
Dugaan sementara muncul setelah adanya laporan peternak terkait gejala yang dialami hewan ternaknya.
“Ada laporan dari peternak waktu itu. Artinya, menunjukkan gejala-gejala seperti ini. Terus adanya dari petugas kesehatan, dari dokter hewan, dari paramedis kita ke lapangan, ternyata memang itu ada indikasi,” imbuhnya.
